Indonesian (See the English version below this article):
Seringkali orang mengaku dirinya ber-agama guna ber-Tuhan. Sayangnya mereka seringkali terjebak lebih menuhankan agama itu sendiri dari pada Tuhan. Kita harus sadar bahwa walau agama membawa klaim nilai-nilai ketuhanan, antara agama (sbg suatu hal yg imamen) dan Tuhan (sbg suatu hal yg transenden) adalah entitas yg berbeda. Bagaimanapun, agama jelaslah suatu produk budaya.
Adalah benar bahwa dalam setiap agama terkandung nilai-nilai ketuhanan (religio-magis). Namun perlu diingat bahwa nilai-nilai tersebut bekerja dalam wilayah kesadaran manusia, dan, sebagaimana kita tahu, setiap produk kerja kesadaran manusia adalah budaya. Sebagai suatu hasil artikulasi pencerapan atas kekuatan adi-kodrati di luar dirinya (Tuhan), dalam kesadarannya manusia melakukan pro-kreasi, produksi, dan re-produksi nilai yang kemudian kita namakan sbg nilai-nilai ketuhanan. Sebagai suatu realitas, rangsangan kekuatan adi-kodrati (eksistensi Tuhan) sedari awal masuk ke dalam wilayah kesadaran manusia melalui aktivitas penafsiran, yg kemudian diolah lebih lanjut dan di re-produksi mjd nilai-nilai ketuhanan (spiritualisme, religio magis), yg lebih jauh lagi dikongkritisasi dalam ruang sosiologis dg nama: agama.
Sebagai suatu kerja kesadaran, dan sebagaimana yg mjd sifat khas budaya, semua rentetan aktivitas di atas tentunya bersifat: subyektif-relatif-kondisional. Segala macam pengalaman yg dimiliki si subyek ybs dlm melakukan aktivitas penafsiran akan mjd determinan atas hasil penafsiran yg dicapai. Itulah mengapa, dalam setiap agama, tdp subyek Tuhan yg berbeda-beda (Kristus, Allah, Sang Hyang Widhi, Yahwe, dsb) beserta nilai-nilai yg secara relatif berbeda-beda pula. Hal tsb disebabkan karena semua aspek historis yg sifatnya relatif yg muncul di saat agama tsb dilahirkan, yg kemudia scr terus-menerus diprokreasi (baca: disebarkan), mjd determinan atas aktivitas tsb yg scr logis akan menghasilkan keberagaman. Keberagaman (subyektivisme, relativisme, dan kondisionalitas) adalah ciri khas kerja kesadaran manusia, dan karena agama adalah bagian dari padanya, maka keberagaman adalah juga mjd ciri khas keberagamaan, dan hal ini tidak bisa dicegah terlebih lagi disalahkan. Namun di sisi lain, karena semua agama berawal dari aktivitas kerja kesadaran manusia atas adanya realitas tunggal yaitu kekuatan adi-kodrati (eksistensi Tuhan) di luar dirinya, maka dibalik subyek Tuhan yg berbeda-beda dan di balik keberagaman relatif nilai-nilai yg ada, tdp garis besar yg sama atas semua agama yg pernah ada dalam peradaban manusia, dan ini berlaku sejak haman purba hingga jaman kontemporer sekarang ini.
Berdasarkan hal di atas, maka seharusnya disadari bahwa hal terpenting dari agama bukanlah hal yg sifatnya relatif-subyektif- serta kondisional, namun garis besar yg sama yg mjdkannya karakteristik umum proses kerja pencerapan manusia atas kekuatan adi-kodrati di luar dirinya yg tjd sejak jaman dahulu hingga akhir jaman nanti. Dengan demikian, hal terpenting dari agama bukanlah siapakah subyek Tuhan itu sendiri, serta nilai-nilai relatif yg beragam lainnya, melainkan adanya premis umum bahwa tdp kekuatan adi kodrati di luar diri manusia (eksistensi Tuhan) dimana manusia menundukkan diri terhadap kekuatan tersebut guna menciptakan realitas kehidupan yg lebih baik bagi mereka.
Sebagai suatu budaya, adalah seharusnya jika agama tidak bersifat solid dan kaku, karena bagaimanapun dia adalah wujud kerja aktivitas kreasi-prokreasi dan interpretasi-reinterpretasi nilai yg akan senantiasa bergulir sepanjang sejarah. Sebagaimana artikulasi budaya lainnya, agama seharusnya bersifat cair, luwes, terbuka, inklusif, dan dialektis, yang bisa diserap dan dituangkan kembali dalam berbagai “bejana sosial” yang berbeda-beda. Sebagaimana kemampuan penangkapan manusia akan realitas (aktivitas penafsiran) yang senantiasa terbatas (shg bersifat subyektif, relatif, dan kondisional), agama-agama yg beragam adalah bagaikan kepingan-kepingan kecil sebuah puzzle, di mana untuk mendapatkan gambaran umum yg lebih baik ttg esensi dasar agama yg beragam tsb, masing-masing puzzle harus dirangkai satu sama lain. Oleh karena itulah, komunikasi dan dialog atas keberagaman keberagamaan yang didasari kesamaan dalam garis besar yang ada guna mendapatkan gambaran kebenaran yg labih baik adalah suatu keniscayaan.
Namun sayangnya, agama yang seharusnya berada dalam ruang kultural tersebut seringkali diseret jauh ke luar untuk dibawa masuk dalam dimensi kekuasaan melalui klaim-klaim universalitas. Apa yang seharusnya relatif (personifikasi Tuhan, nilai-nilai relatif yang beragam scr sosiologis) dijadikan sbg nilai-nilai umum dan meminggirkan serta mengaburkan premis umum yg sebenarnya (ketertundukan atas kekuatan adi kodrati guna menciptakan kehidupan yg lebih baik) dg tujuan utk dpt menguasai klaim kebenaran scr monolitis untuk kemudian dapat melakukan kooptasi pada agama-agama dan aspek-aspek budaya yang lainnya. Agama kemudian menjadi klaim identitas, yg berfungsi sbg alat eksklusi dan marjinalisasi atas yang lain (the other). Sampai di sini, agama sudah berubah menjadi alat penindasan. Itulah mengapa, sejarah dunia telah terlalu sering membuktikan, betapa banyaknya fenomena pembantaian anak manusia atas dasar klaim agama. Untuk mempertahankan kedok kekuasaan ini, maka digunakanlah jargon-jargon kesakralan. Agama menjadi suatu entitas yg final, solid, rijid, dan irasional yang terlarang untuk dimasuki aktivitas akal, kritik, modifikasi, dan komunikasi. Inilah fenomena dimana agama telah dituhankan melebihi Tuhan itu sendiri.
English:
People often claim them self as religious persons in order to claim that they believe in God. Nevertheless, they are often trapped to worship their religion more as “God” rather than the God itself. We have to realize that even though the religions bring theism values, religion (as an immanent existence) and God (as a transcendence existence) are different entity. Religion is produced by culture.
Indeed, every religion has theism values inside it. But we have to remember that these values work inside human’s consciousness, and, as we already know, everything produced by human’s consciousness is what we call as culture. As a result of humans’ perception of the natural supreme power outside them self, they (humans) create, produce, and re-produce values inside their consciousness, and these values are what we know as theism values. As a reality, the stimulus of the natural supreme power enters the humans’ consciousness through interpretation activity, and then processed and reproduced as theism values (spiritualism), in which these theism values will be concretized further in a sociological space as religion.
As a conscious work, and as what cultural characteristic is, every single phase of the activities above is, off course, subjective-relative-conditional. Every thing which has been experienced by the subject (human) will determine the result of the interpreting process done by this subject. That’s why in every single religion there are many different personifications of God (i.e.: Christ, Allah, Yahweh, Sang Hyang Widhi, etc.), including the relatively different values following them. It is because all relative historical aspects existing at the time when a religion raises and then spreads, determine all those activities which logically results in diversity and plurality. Relativity, plurality, diversity, subjectivity, and conditionality are the characteristics of human’s consciousness, and because religion is part of human’s consciousness so all the characteristics above are the characteristics of religion as well, and this fact can not be avoided or even be blamed. However, there is one same essence lies behind various values among various religions which has been being established since ancient time until nowadays because though human interpret the natural supreme power in various way and results variously as well the interpreted object is the same thing. According to this, we should realize that the most important things of religions are not the relative-subjective-conditional things of them but the same essence which is the general characteristic of the perception activity of the natural supreme power done by humans since ancient time until contemporary time right now. So, the most important thing of religions is not who the God is including all relative values following it but the general premise that there is natural supreme power (the God) existing outside humans whom humans submit them self on it in order to create a better life.
As part of culture, religions should not be solid and rigid because it is a result of creation, pro-creation, interpretation and re-interpretation activities which always happen along the history. As commonly articulated culture, religions should be liquid, flexible, open, and dialectical which can be absorbed and then re-manifested in different social context. According to the limited human ability in capturing the reality, various religions existing in this world is like pieces of puzzle which has to be linked one to another. Therefore, communication and dialogue among these various religions based on their same essence in order to get a bigger and better picture about the truth is inevitable.
Unfortunately, religions which should be developed in cultural space are often taken out from that space in order to be bring into power dimension through claims of universality. What should be relative (the personifications of God and various sociological values) is perceived as general values which marginalizes and obscures the real general premise (humans submission on the natural supreme power outside them)in order to get a monolithic control of the claim of truth that makes possible to be dominate over another religions and cultures. Religion then becomes claim of identity which functions as tool to exclude and marginalize the others. At this stage, religion has transformed into a suppression tool. That’s why history has proven too often how many man slaughters has been happening based on religious claims. In order to defend this disguise of power, many jargons of holiness are used. Religion becomes a final, rigid, solid, and unreasonable entity which is forbidden for any reasoning activity, critique, modification, and communication. This is what we can say here as worshiping religion more than the God itself.
Note: Tulisan ini dimuat di Harian Surabaya Pagi tanggal 27 Maret 2010 (This article was also published in Surabaya Pagi Daily News on March 27, 2010.)
Mengapa setiap kali agama baru datang selalu mendapat tentangan dari kebudayaan lama,..
bukankah budaya lebih cenderung untuk membenarkan yang banyak …. bukankah budaya lebih cenderung untuk menguatkan eksistensi suatu kepentingan bukan kebenaran ….., bukankah setiap agama baru awalnya dibawa oleh satu orang sebagai pembawa wahyu bukan golongan maupun entitias kelompok kuat di muka bumi, bagaimana bisa dikatakan budaya, Bung ….Bertaubatlah bila anda belum bertuhan, masih banyak bukti-bukti ketuhanan di alam ini, jika anda adalah benar-benar kaum yang berfikir, bukan berfikir sempit apalagi tendensius,
Berpikirlah sungguh hidayah itu datang bagi kaum yang berfikir jernih dan terbuka
Sebelum saya menjawab, perkenankan saya bertanya. Bagaimana bisa anda menyimpulkan bahwa saya belum bertuhan? Jika anda membaca tulisan saya dengan cermat, seharusnya anda bisa medapatkan informasi bahwa saya mengakui keberadaan Tuhan (yg saya sebut sbg “kekuatan adi kodrati”). Jika agama saya sebut sebagai produk budaya, bukan berarti saya atheis.
Tentang masalah budaya, nampaknya anda juga kurang memahami apa itu arti budaya. Sekali lagi, jika anda membaca tulisan saya di atas dan memahaminya dg baik, maka seharusnya anda juga bisa mendapatkan informasi tentang bagaimana bisa saya berkesimpulan bahwa agama adalah produk budaya.
Jikalau kemudian agama mendapatkan pertentangan dari masyarakat di mana ia muncul, maka itu tiada lain adalah bentuk kontradiksi internal dalam budaya suatu masyarakat, yakni pertentangan antara konservatisme dan semangat baru perubahan yg awam terjadi dalam perkembangan budaya. Jikan anda bertanya bahwa budaya cenderung membenarkan yang banyak, maka bukankah agama cenderung juga melakukan hal yg sama di mana jika ada “sempalan aliran” yg berbeda dari mainstream (suara terbanyak) akan dicap kafir, sesat, dsb (spt yg tjd pd aliran Ahmadiyah)? Bukankah itu sekaligus juga membuktikan bahwa agama juga tidak luput dari sentimen kekuasaan? Dari sini kiranya jelas lebih membuktikan thesis dalam tulisan saya di atas bahwa agama adalah produk budaya.